Rabu, 13 Juni 2018

Movie Review: HIDDEN FIGURES




Hidden Figures: Tak Berhenti Berjuang karena
Warna Kulit


Kali ini saya akan mengulas sebuah film yang mengingatkan kita pada sosok Kartini yang memperjuangkan hak-hak wanita Indonesia. Namun, bedanya di tulisan kali ini bukan tentang film dalam negeri, melainkan film garapan Theodore Melfi yang berjudul Hidden Figures. Sudah tersurat dari judul filmnya saja, film ini bercerita tentang sosok-sosok tersembunyi, siapa sih?

Film bergenre drama sejarah ini menceritakan tentang tokoh-tokoh wanita berkulit hitam yang memperjuangkan haknya melawan pemisahan ras dan gender. Film berlatarkan tempat di kota Hampton, Virginia ini dimulai ketika ketiga tokoh utamanya bertemu dengan polisi berkulit putih. Tidak kaget kalau mereka diremehkan saat polisi tersebut mengetahui bahwa mereka bekerja untuk National Aeronautics Space Administration atau yang lebih dikenal dengan NASA. Yup, pekerja wanita memang masih sangat jarang diketahui dapat diterima bekerja di perusahaan bonafid itu, apalagi mereka adalah negro.

Salah satu dari wanita negro itu bernama Katherine Goble. Sejak kecil dia sangat ahli dalam bermain dengan angka-angka. Di NASA, dia bekerja sebagai analisa geometri di divisi Space Task Group. Dia melakukan penghitungan yang dibutuhkan untuk peluncuran dan pendaratan untuk program luar angkasa. Kedua temannya pun sama, Mary Jackson, bekerja dengan sebagai teknisi mesin, dan Dorothy Vaughan, ahli matematika yang bekerja mengawasi para wanita negro yang dipekerjakan di NASA. Aroma-aroma diskriminasi masih sangat kental dirasakan pada saat itu, terutama rasisme terhadap perbedaan warna kulit. Sudah pasti, orang berkulit putih lah yang lebih berkuasa. Dalam hal pekerjaan di kantor besar semacam NASA yang bergerak di bidang astronomi, sangat terlihat para karyawannya masih tidak menghargai para pekerja berkulit hitam. Terbukti dari tidak adanya toilet wanita di gedung tempat Katherine bekerja. Bayangkan, bagaimana rasanya menahan air seni yang sudah di ujung tanduk namun tak ada tempat untuk membuangnya? Ditambah lagi, ukuran teko kopi yang tersedia di pojok ruangan yang hanya sepertiga dari ukuran jatah para pekerja berkulit putih?

Beruntungnya kita tidak hidup di zaman penuh diskriminasi seperti itu. Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti pernah merasakan tidak enaknya dipandang sebelah mata saat kita memilih tempat duduk di bus hanya karena kita terlihat seperti “orang Timur”, atau mungkin saat berpapasan dengan anak kecil di jalan lalu mereka menyapa dengan “Koh” hanya karena mata kita sipit dan terlihat seperti keturunan Cina, dan masih banyak contoh diskriminasi lain hanya karena kita minoritas atau tidak sama seperti yang lain. Hal tersebut persis terjadi pada ketiga tokoh utama wanita dalam film ini. Mereka bahkan merasa bahwa menjadi negro adalah sebuah kejahatan.

Alur yang digunakan dalam film ini adalah alur mundur yang mana diangkat berdasarkan kisah nyata. Kisah nyata ini terjadi sekitar tahun 1960-an. Latar yang kebanyakan bertempat di kantor NASA pun menghiasi hampir keseluruhan ceritanya. Perbedaan latar gedung West Computing Group bagi para kulit hitam dan gedung East Computing Group bagi kulit putih terlihat sangat signifikan.
Suatu ketika, kabar mendaratnya astronot Rusia pertama di luar angkasa seolah menjadi cambuk bagi pihak NASA selaku saingannya. Amerika lantas tak terima dengan hal itu. Pihak NASA pun makin giat mengerahkan para pekerjanya untuk lebih kerja keras lagi dalam mengirim para astronotnya ke luar angkasa. Tentu saja, peran Katherine dirasa cukup dipertimbangkan dalam hal ini.

Karakter Katherine sangat mendominasi dalam film ini. Kehidupan sehari-harinya yang merupakan seorang janda beranak tiga juga dikisahkan di dalamnya. Tak melulu diremehkan oleh orang-orang di kantornya, seorang pria tentara yang pada akhirnya tertarik dengannya pun awalnya tak menyangka jika seorang wanita seperti Katherine dapat bekerja di kantor NASA. Katherine yang pantang menyerah itu membuktikan kemampuannya agar dapat diakui dan tak dipandang sebelah mata lagi oleh orang-orang, seperti Paul Stafford, sang kepala insinyur di departemen tempatnya bekerja. Sosoknya yang tegas dan berani menyuarakan pendapat akhirnya terdengar oleh atasannya, Al Harrison. Perlahan namun pasti, keberadaan para kulit hitam pun diakui oleh orang-orang kulit putih karena kemampuan intelektualnya yang dapat diandalkan.

Konflik tak hanya terjadi pada Katherine saja. Konflik dalam film ini juga dihiasi oleh cerita kehidupan Mary dan Dorothy. Mary yang merupakan lulusan matematika sains dan fisika dirasa tidak cukup memenuhi persyaratan untuk mendaftar ke sekolah insinyur. Namun sayangnya, hanya orang berkulit putih lah yang berhak menghadiri sekolah tersebut. Atas dorongan dari atasannya, ia berusaha kerasa untuk memperjuangkan haknya sebagai wanita negro yang memiliki impian untuk menjadi insinyur di NASA. Untuk mewujudkan hal itu, ia diharuskan mengikuti sekolah khusus yang melatih calon insinyur.
Tak hanya itu, Dorothy Vaughan merasa dirinya tak cukup dihargai meski ia sudah mengabdi sekian lamanya bekerja di kantor itu. Ia berkeinginan untuk menempati posisi kosong sebagai supervisor di East Computing Group. Tolakan mentah-mentah disampaikan oleh Vivian Mitchel yang diperankan oleh Kirsten Dunst. Kegigihannya untuk memberikan bantuan agar mesin IBM dapat bekerja akhirnya membuahkan hasil.
Bagian yang paling saya sukai adalah ketika Katherine melakukan penghitungan untuk persiapan peluncuran astronot ke luar angkasa. Penghitungannya yang akurat membuatnya dapat diandalkan dan dipercaya untuk bergabung dengan misi NASA selanjutnya untuk mendarat di bulan pada tahun 1969.

Dialog-dialog yang terjadi pada film ini benar-benar memberikan para penonton gambaran tentang apa yang terjadi saat pertama kali NASA menerbangkan astronot, bagaimana jerih payah para pekerjanya untuk bersama-sama mencapai keberhasilan, serta bagaimana para negro memperjuangkan keseteraan haknya yang selama ini dirasa sangat tidak adil.
Taraji P. Henson memerankan tokoh utama dengan sangat baik. Ia merepresentasikan bagaimana seorang wanita negro yang tak kenal lelah untuk membuktikan bahwa mereka tidak berbeda, mereka adalah sama. Kepiawaiannya dalam berakting di film ini sangat patut untuk diacungi jempol.

Hal yang saya sukai lagi dalam film ini adalah jalan ceritanya yang tidak membosankan dan lika-liku kehidupan yang terkesan nyata dan tidak dilebih-lebihkan. Ada beberapa kisah cinta para tokoh utama yang membumbui film ini dengan pas. Tak hanya itu, suasana menegangkan pun kerap menghiasi beberapa bagian dalam film, seperti saat sang astronot mengalami kesalahan teknis mesin.
Amanat yang bisa kita petik dari film ini adalah jangan mudah menyerah pada situasi yang menimpa kita, sekalipun itu adalah hal tak bisa kita ubah, seperti warna kulit. Bersyukurlah jika kalian dianugerahi kemampuan dan dapat dengan mudahnya mendapatkan pengakuan dalam lingkungan sosial seperti sekarang ini. Meskipun tidak sesuai ekspektasi, tetaplah berkarya dan memberikan manfaat kepada sekitar dan selalu percaya bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil.

Saya sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton oleh kalian para muda-mudi masa kini, terutama kaum perempuan. Jadikanlah hambatan sebagai suntikan untuk tetap semangat meraih apa yang kalian inginkan. Seperti kutipan terkenal dari Ibu Kartini yang berbunyi “Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi! Bila tiada bermimpi, apalah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenarnya kejam.”





Sutradara                     : Theodore Melfi
Produser                      : Donna Gigliotti, Peter Chernin, Jenno Topping, Pharrel Williams, Theodore Melfi
Penulis skenario          : Allison Schroeder, Theodore Melfi
Berdasarkan pada       : Buku Hidden Figures oleh Margot Lee Shetterly
Pemain                          : Taraji P. Henson, Octavia Spencer, Janelle Monae, Kevin Costner, Kirsten Dunst, Jim Parsons
Genre                          : Drama, Sejarah
Durasi                          : 127 menit
Tanggal rilis                 : 10 Maret 2017 (Indonesia)
Rating                         : 7.8 / 10 (IMDb), 93% (Rotten Tomatoes), 74% (Metacritic)

Rabu, 06 Juni 2018

Klaim BPJS Ketenagakerjaan Nggak Ribet Kok!


Tulisan ini aku tulis saat sedang mengantre untuk proses klaim di kantor BPJS. 

Jadi begini ceritanya.. 
Pertengahan Desember 2017 lalu aku resign dari kantor yang telah setahun menjadi tempatku bekerja, yaitu BRI. Sesaat setelah resign, aku hanya mengambil apa yang menjadi hakku, yaitu ijazah S1 yang ditahan selama aku bekerja di sana dan juga surat pengalaman bekerja yang dapat diminta di bagian SDM.
Sudah. That's it. Dengan kebodohanku yang tidak tahu mendalam tentang hak selama aku bekerja, salah satu teman kantorku yang juga resign setelahku, memberitahu tentang klaim itu.

Siapa saja yang dapat melakukan Klaim? 

Klaim BPJS Ketenagakerjaan dapat dilakukan jika tenaga kerja tersebut memenuhi kriteria klaim, yakni:
1. Mencapai usia 56 tahun
2. Meninggalkan wilayah RI (bagi WNA) 
3. meninggalkan wilayah RI (bagi WNI) 
4. Cacat total tetap
5. Meninggal dunia
6. Kepesertaan 10 tahun, pengambilan maksimal 10%
7. Kepesertaan 10 tahun, pengambilan maksimal 30% (perumahan) 
8. Mengundurkan diri sebelum usia pensiun, dan
9. Pemutusan Hubungan Kerja

In this case, aku termasuk pada poin yang ke delapan, mengundurkan diri sebelum usia pensiun. Kenapa aku mengundurkan diri? Tidak, itu tidak akan dibahas di sini. Haha. 

Jadi, hal yang harus diperhatikan saat awal penandatanganan kontrak bekerja, pastikan bahwa kamu sudah memahami betul seluruh isi hak dan kewajiban yang ada di dalam kontrak.

Jika ada yang ingin ditanyakan atau ragu pada sebuah poin tertentu, jangan malu untuk menanyakannya ke bagian SDM di kantormu. 
Mungkin, saat itu aku tidak terlalu memperhatikan mbak SDM saat menjelaskan serentetan belasan lembar perjanjian kontrak itu, yang membuatku akhirnya tidak aware akan adanya klaim ini. 
So, untuk kalian yang akan, sedang, atau sudah selesai bekerja dari suatu perusahaan, jangan lewatkan satu poin penting yang menjadi hak kalian, asuransi atau jaminan. Kenapa? Karena biaya jaminan atau asuransi tersebut sudah dipotong dari gaji yang kalian dapatkan selama bekerja.
Nggak mau kan hal yang menjadi hakmu menjadi sia-sia? Klaimkan saja! 

Apa saja yang dibutuhkan untuk proses klaim BPJS Ketenagakerjaan? 

1. Kartu BPJS
Jika hilang kamu bisa meminta bagian SDM perusahaan untuk membuatkan surat keterangan bahwa kartu tersebut hilang
2. Surat Kehilangan dari Kepolisian (jika kartu BPJSmu hilang)
3. Form Jaminan Hari Tua atau JHT
Formulir bisa didapatkan di kantor BPJS Ketenagakerjaan yang ada di kotamu. Untuk area Malang Raya, kamu bisa datang langsung ke kantor BPJS yang ada di Jalan Dr. Sutomo, Klojen, dekat Bakso Bakar Pak Man. 
4. KTP asli dan fotokopi sebanyak 2 lembar
5. Kartu Keluarga asli dan fotokopi sebanyak 1 lembar
6. Surat keterangan berhenti bekerja dari perusahaan
7. Buku tabungan asli dan fotokopi sebanyak 1 lembar

Bagaimana langkah-langkah untuk proses pelayanan klaim? 

1. Jika sudah dirasa melengkapi seluruh dokumen yang dibutuhkan, datanglah ke kantor BPJS sepagi mungkin. Usahakan datang sebelum jam 8 untuk mengambil nomor antrean. Dalam hal ini, aku datang jam setengah delapan dan mendapatkan nomor 74. Wow :')
2. Langkah selanjutnya, menunggulah. Haha. Kalau kamu bukan orang yang fleksibel, maka kamu luangkanlah barang sehari aja untuk mengurus proses klaim ini. Aku kurang tahu sih bisa atau tidak jika harus diwakilkan oleh orang lain. Untuk lebih jelasnya kamu sebaiknya tanyakan ke pihak BPJS. 
3. Jika nomor antreanmu sudah dipanggil, proses pertama yang akan dilalui adalah pemeriksaan dokumen. Petugas akan memeriksa kelengkapan dan keakuratan dokumen yang telah kamu bawa.
4. Lalu, menunggulah lagi. Haha. Ini serius. Antrean yang cukup panjang akan membuatmu cukup bosan jika tidak membawa perlengkapan pembunuh kebosanan seperti headset, aplikasi hiburan, atau bahkan buku untuk sekedar membunuh waktu saat menunggu antrean selanjutnya. 
5. Jika nomor antreanmu sudah dipanggil, proses kedua adalah pelayanan klaim. Petugas akan memproses klaim yang kamu ajukan berdasarkan data yang ada. 
6. Setelah seluruh proses selesai, kamu akan diinformasikan bahwa uang klaim akan diterima paling cepat  lima hari dan paling lambat dua minggu. (in my case, cuma dalam dua hari, lho! Alhamdulillah..)

Jadi, begitulah kira-kira proses yang harus dilalui. Nggak ribet kan? 

Selasa, 08 Mei 2018

Kekuatan Magis Es Teh Manis

Source: http://www.dssc.co/delhi/2017/04/17/cold-brew-tea/


Apapun makanannya, minumnya...


Es teh manis! 
Haha. Kalo saya sih seringnya begitu. Kamu juga? 
Sudah sangat umum jika es teh manis adalah salah satu minuman yang paling dapat diandalkan. Kenapa?
Pertama, saat panas terik seperti yang akhir-akhir ini saya rasakan di Malang, hal yang terbersit dalam pikiran saya adalah minum es teh manis 
Kedua, saat sedang makan di sebuah restoran atau warung, minuman yang paling aman dipesan adalah es teh manis.
Ketiga, bahkan saat kamu sedang kedatangan tamu atau teman di rumah, yang paling mudah untuk disuguhkan adalah es teh manis.
Di Indonesia sendiri, es teh adalah satu dari sekian banyak minuman yang paling banyak disukai. Nggak usah disertakan pakai survey atau persentase pun, kalian pasti setuju.
Saya pernah menonton satu video di salah satu channel YouTube tentang kuliner milik YouTuber asal Amerika Serikat, sebut saja Fung Bros. Mereka bahkan menyebutkan bahwa es teh adalah salah satu minuman ter-recommended asal Indonesia. Wah.. 
Kepopuleran es teh pun bisa dibuktikan dari sering ditemuinya mereka di hampir setiap tempat makan yang kita datangi. Sebut saja, di warung pinggir jalan dekat rumah kalian yang menjual menu lalapan murah meriah, pesan saja es teh. Pasti ada. Harganya murah, biasanya 2000 rupiah saja. Di kafe-kafe tempat kalian biasanya nongkrong saat malam minggu, mungkin namanya agak sedikit berubah, menjadi ice tea. Harganya beda juga pastinya, ya, mungkin jadi sekitar 8000 hingga 20.000 rupiah. Mereka pun menyediakan varian rasa menarik, seperti ice lemon tea, ice black tea, ice lychee tea, ice peach tea, atau ice green tea latte. Beda lagi kalo di restoran atau sebut saja gerai minuman franchise berwarna logo hijau itu, mungkin nama menunya sudah sangat beragam. Seperti Pink Strawberry Passion Iced Tea, Swedish Berry Iced Tea, Raspberry Iced Tea, The Coldbuster, London Fog, dan apalah saja itu olahan es teh andalan mereka. Tentunya harganya pun jauh berbeda ya, kamu bisa saja merogoh kocek setara dengan uang selembar berwarna biru untuk segelasnya saja. Akan tetapi, pada intinya semua sama, es teh. 
Kandungan dalam es teh, mungkin banyak dari kalian yang belum begitu tahu, ada banyak sekali. Kalau katanya google sih, ada kandungan vitamin C yang baik untuk kekebalan tubuh, ada vitamin E yang baik untuk kesehatan jantung, ada vitamin B kompleks yang baik untuk meningkatkan energi, ada vitamin D yang baik untuk memperkuat tulang, juga bisa menangkal radikal bebas, lho.
Akan tetapi, tahu nggak sih kalian kalau es teh juga bisa berbahaya? 
Keseringan mengonsumsi es teh dapat menimbulkan bahaya pada kesehatan tubuh. Kalau katanya google lagi nih, kandungan oksalat pada es teh akan menyatu dan membentuk kristal yang akan berubah menjadi batu di dalam ginjal. Duh, serem ya.. Selain itu, konsumsi gula yang berlebih juga tentunya akan memberikan dampak buruk bagi tubuh, seperti diabetes atau bahkan obesitas. Kandungan nutrisi yang ada pada teh itu sendiri akan lebih sulit diserap dalam keadaan dingin. Kandungan nutrisi akan diserap tubuh kita dengan lebih baik jika teh tersebut diseduh dengan air hangat. 
Nah, ternyata ada baik dan buruknya juga ya dalam segelas es teh manis yang kita teguk? 
Cara mengatasinya pun sebenarnya mudah. Mengonsumsi es teh itu boleh, asal jangan setiap hari. Kamu juga bisa mengganti pemanis buatan dengan pemanis alami, seperti gula tebu atau madu. Selain itu, kamu juga bisa menambahkan lemon, jeruk, atau daun mint pada segelas es teh karena bahan-bahan tersebut mempunyai khasiat kebaikan tersendiri untuk tubuh.


Jadi, apapun makanannya, apakah minumnya akan tetap es teh manis? Hihihi.

Minggu, 29 April 2018

Melek Teknologi, Perlukah?

Di era digital sekarang ini, banyak aspek dalam kehidupan kita yang berubah seiring dengan perkembangan zaman. Bahasa, budaya, ekonomi kreatif adalah yang paling signifikan dan terasa perubahannya. Tidak dapat dipungkiri, teknologi adalah hal yang paling melekat dalam kehidupan sehari-hari kita.

Apa yang terlintas ketika mendengar kata "teknologi"? Sistem informasi, akses internet, perantara komunikasi, dan lainnya. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Singkatnya, teknologi lah yang berperan penting dalam kelangsungan kehidupan kita, seperti mesin. Jika kamu pernah menonton film Bollywood yang berjudul 3 Idiots , pasti kamu mengingat part saat sang tokoh utama, Rancho, yang menjelaskan apa itu mesin dengan bahasa yang mudah dipahami. Ia menjelaskan bahwa mesin adalah ketika saat kamu merasa panas, ada alat yang dapat membuat rasa panas itu hilang, yaitu kipas angin. Ketika ingin menghubungi kerabat yang berada di tempat yang jauh, ada alat yang dapat memudahkan untuk menghubungi mereka dengan menggunakan telepon. Dan masih banyak lagi contoh lainnya. 

Mungkin ini sudah kerap kali dijadikan bahan perdebatan, atau lebih tepatnya, isu yang sering diangkat dalam tiap kesempatan diskusi.

Bisa kita ambil contoh dalam kehidupan nyatanya, sudah banyak lapisan masyarakat yang "melek" teknologi. Mulai dari anak-anak, usia produktif, hingga lanjut usia. Namun, porsi penggunannya cukup berbeda. Seperti yang saya alami secara pribadi, balita pun dapat mengoperasikan gawai (gadget) yang dia miliki. Singkat cerita, saya mempunyai sepupu berusia tiga tahun. Meskipun belum bisa membaca, entah darimana dia tahu cara membuka aplikasi YouTube yang ada pada telepon genggamnya. Ya, kamu nggak salah baca kok, dia memang sudah punya gadget sendiri. Kaget? Biasa saja, ya, sepertinya. Mungkin kalau 3 atau 5 tahun yang lalu, hal tersebut masih belum terlalu banyak ditemui. Akan tetapi, sekarang sudah banyak para orang tua yang memberikan fasilitas itu kepada anak-anak mereka, yang sejujurnya menurut saya hal tersebut masih belum perlu dilakukan. Yang sangat diperlukan adalah melek teknologi bagi kita para usia produktif. Mengapa demikian? Usia kita lah yang menentukan perubahan pada bangsa. Jangan pernah jadi apatis soal hal-hal yang sedang berkembang di sekitar kita. Jika hal itu tidak menarik minatmu,  seperti halnya politik, jangan pernah tutup telinga, tetaplah ambil baiknya dan buang buruknya. 

Memilah hal yang disukai itu boleh, merem jangan. 

Minggu, 22 April 2018

Pribumi yang Mendunia

"Habis Gelap Terbitlah Terang"


Siapa yang tak kenal kutipan tersebut? Tak jarang dari kita selalu mengaitkannya dengan sosok wanita inspiratif tanah air, yakni Kartini. Sosok beliau yang pantang menyerah seringnya dijadikan panutan oleh sebagian besar wanita-wanita Indonesia sejak zaman dulu. Siapa yang tak setuju? Berkat kegigihannya memperjuangkan hak-hak kesetaraan wanita, pemilik nama lengkap Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat ini bahkan dikenal oleh dunia sebagai pahlawan nasional bangsa Indonesia. Hari kelahirannya yang jatuh pada tanggal 21 April lalu kemudian diperingati sebagai Hari Kartini untuk mengenang jasa beliau kepada bangsa Indonesia.

sumber: https://www.avoskinbeauty.com/blog/6-sikap-positif-ra-kartini-kamu-contoh/

R.A. Kartini merupakan keturunan bangsawan, ayahnya yang bernama Raden Mas Sosroningrat dikenal sebagai bupati Jepara ketika itu. Ibunya bukan berasal dari keturunan bangsawan, melainkan hanya seorang rakyat biasa. Dalam kesehariannya, seperti yang kita ketahui, anak-anak perempuan pada masa itu tidak diperbolehkan mengenyam bangku sekolah, mereka hanya boleh tinggal di rumah. Namun lain halnya dengan Kartini, sebagai seorang bangsawan, beliau diperbolehkan mengenyam pendidikan di ELS (Europese Lagere School). Kartini yang fasih berbahasa Belanda sering berkirim surat dengan temannya yang berada di Belanda. Dalam suratnya, beliau menumpahkan pikiran mengenai pendapatnya tentang wanita pribumi dan wanita Belanda. Beliau lalu tergerak untuk memperjuangkan hak-hak wanita pribumi yang pada saat itu masih berstatus sosial rendah jika dibandingkan dengan kaum pria, seperti kebebasan untuk menuntut ilmu dan berhak memperoleh persamaan serta keseteraan hak.

Jika dibandingkan dengan saat ini, kita patut bangga dengan pencapaian wanita-wanita Indonesia yang memiliki prestasi tak kalah hebatnya seperti cita-cita luhur R. A. Kartini yang ingin melihat perempuan pribumi dapat mengenyam pendidikan seperti sekarang ini.

Tak dapat dielak, sosoknya memang terus dikenang sebagai pahlawan nasional wanita yang tak akan lekang oleh waktu. Akan tetapi, di era globalisasi saat ini tidak sedikit, lho, figur wanita yang juga dapat kita jadikan pacuan untuk terus memperjuangkan apa yang kita yakini. Dilansir dari Ambisee Indonesia, dalam World Most Admired YouGov Women Category ada banyak prestasi wanita Indonesia yang telah diukir dan diakui oleh dunia. Mereka antara lain adalah Susi Pudjiastuti, Agnez Mo, Sri Mulyani, dan Tri Rismaharini.

1. Susi Pudjiastuti  

sumber: https://www.vemale.com/cantik/112660-definisi-cantik-
menurut-menteri-susi-pudjiastuti-ialah-yang-enak-dilihat.html

Terlahir dari keluarga pengusaha ternak ikan mengantarkan sosok Ibu Susi menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan ke-6 Indonesia di bawah kabinet kerja Presiden Joko Widodo periode 2014-2019. Ibu Susi memulai bisnisnya sejak tahun 1983 menjadi pengepul ikan di kota kelahirannya, Pangandaran, Jawa Barat. Ketika bisnisnya makin berkembang, pada tahun 1996 beliau mendirikan PT. ASI Pudjiastuti Marine Product yang bergerak di bidang produk pengolahan ikan. Dengan melambungnya perkembangan bisnis yang ia jalani hingga pasar Asia dan Amerika, ia berinisiasi untuk memiliki pesawat sendiri sebagai alat transportasi untuk mengangkut produk hasil lautnya agar cepat sampai pada tujuan. Pada tahun 2004 ia memutuskan untuk membeli sebuah pesawat yang kemudian menuntunnya mendirikan PT. ASI Pudjiastuti Aviation. Perusahaan yang bergerak di bidang penerbangan ini berkembang dengan pesat hingga saat ini.
Dari kegigihannya, ia meraih berbagai penghargaan dari kancah lokal maupun internasional. Salah satunya adalah Awards for Innovative Achievements, Extraordinary Leadership and Significant Contributions to the Economy pada APEC tahun 2011. 


 2. Agnez Mo
  

sumber: sumber: https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20170924143002-227-243656/
long-as-i-get-paid-agnez-mo-tuai-pujian-youtuber-asing


Pelantun lagu Coke Bottle ini telah terjun ke industri hiburan semenjak usia dini. Ia terlihat beberapa kali menjadi pembawa acara pada program televisi anak-anak. Kepiawaiannya dalam bernyanyi pun telah ia tunjukkan sejak kecil. Tak hanya itu, Agnes juga jago akting, lho! Hal itu terlihat dari beberapa judul sinetron yang ia bintangi, seperti Lupus dan Pernikahan Dini. Karena kepopulerannya pada masa itu, ia sempat didapuk menjadi artis remaja dengan bayaran tinggi di Indonesia! Wah..
Dara multitalenta ini dipasangkan dengan aktor Jerry Yan dalam drama Taiwan berjudul The Hospital pada tahun 2005. Dalam dunia tarik suara, ia pernah berkolaborasi dengan penyanyi dan pencipta lagu asal Amerika, yaitu Keith Martin. Agnes pun pernah menjadi bintang pembuka dalam konser Boyz II Men yang digelar di Istora Senayan, Jakarta, pada 2007. Ia lalu menggelar konser perdananya di Kuala Lumpur pada tahun yang sama.
Masih banyak lagi prestasi membanggakan yang diukir selama perjalanannya menapaki industri hiburan tanah air. Hal ini terlihat dari tidak sedikitnya penghargaan yang diraih oleh pemilik nama lengkap Agnes Monica Muljoto dalam seni tarik suara, pembawa acara, hingga seni peran. Keteguhannya akan impian "go international" menghantarkannya untuk bersaing menembus pasar musik internasional dan mendaratkan mimpinya di Los Angeles hingga saat ini.
Telah terjun ke dalam dunia tarik suara membuatnya diusung menjadi salah satu coach pada ajang pencarian bakat The Voice Indonesia dan The Voice Kids Indonesia pada 2016 lalu.
Tahun berikutnya, pada 2017 ia merilis lagu berjudul Long As I Get Paid. Ia pun mendapatkan banyak pujian dari peluncuran musik videonya di kanal YouTube miliknya yang telah diputar sebanyak 22 juta kali per hari ini.
Ia membuktikan pada khalayak bahwa mimpi itu harus diraih dengan usaha keras seperti motto hidupnya, yaitu "dream, believe and make it happen".

3. Sri Mulyani Indrawati

sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20160727110513-78-147327/
kembalinya-sri-mulyani-perempuan-terkuat-ke-23-di-dunia

Merupakan sarjana ekonomi dari Universitas Indonesia, Ibu Sri Mulyani sempat dipercaya untuk menduduki beberapa posisi penting dalam pemerintahan Indonesia. Pada tahun 2005, ia ditunjuk menjadi Menteri Keuangan di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kabinet Indonesia Bersatu. Ketegasannya dalam membuat kebijakan untuk memecat para pelaku korupsi di lingkungan departemen keuangan menjadikannya salah satu wanita paling berpengaruh di Indonesia pada saat itu. Tak hanya itu, ia juga berhasil mendongkrak perekonomian Indonesia dengan meningkatkan investasi langsung luar negeri di Indonesia. Hal tersebut tentunya sangat membantu perekonomian Indonesia yang sempat terpuruk sejak krisis finansial Asia pada 1997.
Setelah jabatannya selesai pada 2010, ia ditunjuk menjadi salah satu dari tiga Direktur Pelaksana Bank Dunia. Hal itu menjadikannya wanita sekaligus orang Indonesia pertama yang mendapatkan kedudukan tersebut.
Ditinggalkan menjabat di Bank Dunia, Indonesia lalu mengalami kemunduran yang signifikan pada bidang perekonomiannya. Hal tersebut terlihat berpengaruh pada menurunnya nilai tukar rupiah pada saat itu.
Sebuah gebrakan terjadi pada 2016 saat Presiden Joko Widodo menjemputnya pulang untuk kembali menjabat sebagai Menteri Keuangan. Ia lalu membenahi kembali perekonomian Indonesia yang sempat merosot melalui program tax amnesty atau pengampunan pajak.
Pada 2014, peraih gelar Master of Science  of Policy Economics dan Ph.D. of Economics di University of Illinois at Urbana Champaign, USA ini dinobatkan sebagai wanita paling berpengaruh di dunia urutan ke-38 versi majalah Forbes. Lalu pada 2017 ia dinobatkan sebagai Menteri Keuangan Terbaik Se-Asia oleh majalah Finance Asia.

4. Tri Rismaharini



sumber: http://www.abouturban.com/2016/11/20/wajah-baru-surabaya-bersama-tri-rismaharini/

Ibu Risma, begitu panggilan akrabnya di kalangan warga Surabaya. Bu Risma dipercaya untuk menjabat sebagai Wali Kota Surabaya pada periode masa jabatan 2016-2021 setelah sebelumnya juga sempat menjabat pada periode 2010-2015. Lulusan sarjana arsitektur di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota. Pada masa jabatannya, ia membenahi penataan kota Surabaya yang sebelumnya kumuh menjadi lebih rapi dan asri. Hal tersebut terbukti dari menjamurnya taman-taman kota dan ruang terbuka hijau yang sebelumnya tidak terawat.
Pada 2014, terjadi insiden yang tidak terduga di Taman Bungkul berkaitan dengan penyelenggaraan bagi-bagi es krim gratis oleh perusahaan es krim Wall's di bawah naungan PT. Unilever. Acara tersebut menjanjikan pembagian es krim gratis sejumlah 10.000 buah. Akan tetapi, tidak disangka sekitar 70.000 pengunjung membludak berantusias untuk mendapatkan es krim gratis tersebut. Dampak negatif yang langsung membuat Ibu Risma marah terhadap pihak penyelenggara ialah akibat akan aksi tidak bertanggung jawab yang membuat tanaman-tanaman yang ada di sekitar Taman Bungkul rusak parah. Akibat insiden tersebut, Ibu Risma lalu dengan sigap memugar area tersebut dan menghantarkannya meraih penghargaan The 2013 Asian Townscape Award dari PBB sebagai Taman Terbaik Se-Asia pada tahun 2013.
Dengan ketelatenannya mengubah kota Surabaya menjadi kota layak huni yang lebih baik, Ibu Risma meraih penghargaan Mayor of the Month atau Wali Kota Terbaik di Dunia pada Februari 2014. Pada kenyataannya, tidak sedikit penghargaan yang diraihnya selama kepemimpinannya menjadi wali kota Surabaya yang patut kita acungi jempol.


Masih banyak tokoh-tokoh wanita yang dapat dijadikan inspirasi untuk kita para wanita era global dalam meraih impian setinggi mungkin, seperti kutipan Ibu Kita Kartini..

"Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi! Bila tiada bermimpi, apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenarnya kejam." 

Jadi, menurut kamu, siapa lagi Kartini masa kini yang patut dibanggakan?


(sumber data sebagian besar dirujuk dari Wikipedia) 

Jumat, 13 April 2018

Living in Silence in A Quiet Place

"Stay silent, stay alive"


source: http://www.impawards.com/2018/quiet_place.html 

*holding breath*
That was my first reaction while watching the trailer. "I must watch this", said me to myself.
A Quiet Place is a horror movie that was just released on April 6. You might have known that it is about a family who lived frightened of creatures that will hunt if they make a sound. IMDb rated this movie 8.2 out of 10. Whoa.. You probably have high expectation, don't you?
Here are 4 facts you might be curious about this movie:

1. Real-life Spouse
The husband and wife who played in this movie, John Krasinski and Emily Blunt are a real life spouse. Perhaps that is why the chemistry was undeniably well-built. Krasinski himself not only played the movie, but also directed it.

source: https://www.usatoday.com/story/life/movies/2018/04/03/why-working
-together-quiet-place-scared-john-krasinski-emily-blunt/476451002/

2. Speaking in Signs
The conversations between the characters were delivered mostly in American Sign Language (ASL). Due to the fact that there are mysterious blind creatures who attracted by sound, the family were living in nearly-total silence. Not to mention that the daughter is deaf in real life, Millicent Simmonds admitted that it was hard while shooting among non-deaf actors yet everyone on set were very supportive. She even had a private sign interpreter to help her understanding the directions during the movie making.

source: https://www.instagram.com/p/Bg13OLBlG2w/?taken-by=milliesimm

3. Silence is Survival
You probably wondering, how could they survive to not making any sound for their entire life? It's even harder than what you imagined. They walked barefoot in order to minimize every sound when they stepped up, even though they already put sand along the way. Even when they eat, they did not use any tools like plate, spoon, or fork, because of the fact that the creatures might hear the sound.  

 source: http://www.justjared.com/photo-gallery/4060481/quiet-place-end-credits-scene-15/

source: https://www.modemovie.com/a-quiet-place/
4.How to Deal with the Creatures
Unlike the other normal family who lives freely making noises, this family figured out the way to indicate if there is something or someone was in danger and needed help without making any sound. They used red lights that will be turned on in urgent situation. It also can be interpreted as the signal that the creatures showed up. They also tried to distract the creatures by making noises with firework. It worked when the wife in this family were in labor.
 source: https://www.independent.co.uk/arts-entertainment/films/features/a-quiet-place-
horror-film-interview-john-krasinski-director-cast-inspirations-emily-blunt-a8291026.html


So, what do you think? Still considering to watch this movie? You'd better be run off to the theater right away and be ready to not making any sound during the movie, because if you do, "they" might hear you!


(dindd, 2018) 

Senin, 09 April 2018

A Book Review: SOPHISMATA by ALANDA KARIZA

"What happens when you dislike politicians so much, yet you fall in love with one?"


source: https://www.goodreads.com/book/show/35265052-sophismata


Welcome to the first review by dindd- shortened from my name, Adinda-. Well, actually I've been longing to do a review for every movie I've watched, every book I've read, or even every place I've visited. But it's just me being so lazy I guess. So, let's jump to the review then!

Sophismata, a fiction novel written by Alanda Kariza and published in 2017. The story itself was about love and politics. Sophismata is a philosophy term means ambiguous sentence,confusing, grey, that makes us questioning ourselves whether the truth or logic were real or not.

The story between Sigi and Timur -the main characters- remains strong. I can tell that both of them have such a lucid vision. Not to mention that Sigi is explicitly assertive, Timur keeps up with his charmingly persistent ambition. They were once a school mate back in senior high school. After years, they met again as a grown up individuals that were both settled with their job. Sigi worked as admistration staff in DPR (Dewan Perwakilan Rakyat known as House of Representatives) in capital city, while Timur worked in judicial monitoring organization after finishing his master study in the UK. They met in an unpredictable evening when Sigi has to accompany her superior to meet a guy who wanted to discuss about nothing but politics. Sigi hates politics actually, yet works in the political industry. Different from Sigi, Timur has a strong desire of establishing a political party.

The setting used in this book were mostly in two cities, Jakarta and Bandung -Sigi's hometown-. The place setting showed us a little bit of modern lifestyle in capital city, they were taken in Sigi's office, presidency staf's headquarters, night club, Timur's apartment, and other places.

Not only talking about politics, the main characters prove us that there is beauty in differences. Even though both of them have their own dreams to be reached, they were unconditionally in love with each other. Sigi's character as a woman is really one of a kind. She is not afraid in delivering opinions, whether to her superior or Timur. She is also assertive in telling her feeling towards Timur, not like any common girls who hide their feelings and wait for miracle happened between them. There was one scene when she asked Timur about their relationship, is it black or white. I mean, who does that? Sigi always have principles that everything has to be black or white, she does not count grey in her life. She wanted everything to be clear.

Other than that, the conflict lies between her passion and what she was doing at that time. Timur emerges not to help her follow it, she does not need that because she always knew what to do.

For me personally, this book is giving such a newness in Indonesian fiction literature. The author delivered a fresh theme, which is politics, something that we are not so familiar about, and combined it with young love story, which is something that most of the readers are interested in.

Goodreads gave 3.6 out of 5 rating on this book, which I agreed. For those who are craving for a romance yet not cheesy, you might want to grab this when you stroll around at the bookstore.


(dindd, 2018)