It's been so long since I last posted on this blog.
Film Indonesia satu ini benar-benar layak untuk diacungi jempol tangan, jempol kaki, jempol teman Anda, bahkan jempol tetangga kalian semua yang membaca. Alias.. indah banget woy ðŸ˜
Okay, let's jump into the review.
First things first, bagi kalian penggemar webseriesnya, sudah pasti setuju kalau film Sore ini dibungkus dengan apik. Namun, bagi kalian yang langsung menonton filmnya, mungkin akan sedikit kebingungan dengan alurnya yang mundur dan sentuhan fantasi magis yang unik dan segar di industri perfilman Indonesia.
JONATHAN
Adegan pembuka diawali dengan pertemuan Jonathan, yang akrab disapa Jo dan diperankan oleh Dion Wiyoko, dengan Karlo di sebuah bar di Kroasia. Kita bisa menyimpulkan bahwa mereka adalah teman baik yang sudah paham dengan watak masing-masing. Ketika esoknya Jo bangun di pagi hari dengan seorang wanita di sampingnya, ia langsung tanpa ragu menuduh Karlo yang mengirimnya. Sudah pasti barang tentu jika hal semacam itu kemungkinan pernah dilakukan Karlo sebelumnya.
"Who are you?" tanya Jo dengan heran. "Aku Sore, istri kamu dari masa depan", jawab Sore dengan nada lembut selembut pantat bayi. Engga ya 😌
Di situlah perjuangan Sore yang mengarungi mesin waktu untuk bertemu Jo dan berusaha mengubah hidupnya menjadi lebih baik itu dimulai. Hari demi hari mereka lalui bersama, lebih ke Sore yang 'nempel' Jo sih. 😅
Jo yang awalnya menentang kehadiran Sore karena dianggap mengganggu hidupnya pun kian melembut hatinya. Sore membuktikan bahwa ia memang benar datang dari masa depan karena berhasil menjawab setiap pertanyaan Jo dengan tepat dan yakin. Di saat Sore sudah menaruh percaya pada Jo yang mulai berubah menjadi lebih baik, berhenti merokok dan minum miras, di saat itu juga Jo mematahkan kepercayaannya.
SORE
Mimisan dan pingsan. Itulah indikasi yang muncul dan menandakan bahwa misi Sore, yang diperankan oleh Sheila Dara, gagal. Harus mengulang dari awal lagi, batinnya. Sore terbangun lagi di samping tempat tidur Jo seperti hari pertama ia tiba dari perjalanan waktu masa depan. Ia ulangi lagi usahanya. Mengikuti Jo ke manapun Jo pergi. Melarangnya merokok. Bahkan membuatnya putus dengan Elsa, kekasih Jo pada saat itu. Sampai di suatu malam ketika Sore mendapati Jo merokok lagi, ia marah. Lebih tepatnya, kecewa. Secara sadar ia melampiaskan isi hatinya dan fakta bahwa hidup Jo tersisa 8 tahun dari saat itu. Serangan jantung, ucapnya. Di saat itulah Jo sadar bahwa niat Sore memang tulus untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik.
Namun, namanya juga manusia. Jo mengulangi kesalahan yang sama berulang kali. Kalau boleh saya tulis, berdasarkan hitungan saya, Sore bangun 23x di samping Jo. Yang artinya.. sebanyak itulah Jo mengulang kebiasaan buruknya, sebanyak itulah Sore tetap sabar dan tidak putus asa untuk mengubah hidup Jo. With any ways possible. She has done it.
Tiba pada titik lelahnya, Sore memutuskan untuk tidak menemui Jo saat ia terbangun untuk kesekian kalinya. Ia pergi. Mencari pekerjaan untuk bertahan hidup. Lalu ditemukanlah ia dengan pemilik toko gaun. Beberapa tahun berlalu hingga rambut pendeknya terurai panjang sepunggung, ia bertemu Jo di toko gaun tempatnya bekerja. Jo sedang mempersiapkan pernikahan dengan Elsa. Jujur, saya menangis sesak saat adegan Sore mengukur jas untuk pernikahan Jo.
Marko, si pemilik toko gaun, menyadari bahwa Jo-lah lelaki yang Sore bicarakan saat pertama bertemu dengannya. "Hal yang tidak pernah berubah adalah masa lalu, rasa sakit, dan kematian", ucap Marko. Sore pun tersadar, "Berarti manusia bisa berubah?", tanyanya dengan mata binar penuh harap.
WAKTU
Setelah kesekian kali percobaan dalam misinya, yang ditandai dengan Sore bangun dan pingsan berkali-kali, ia merasakan hal yang aneh. Sore menyadari bahwa ada yang salah dengannya. Belum sempat ia kecewa atau pun marah, ia sudah pingsan sebelum misinya tercapai. Malam terasa cepat kian hari. Sore gelisah, ia serasa diburu waktu. "Ia marah", ucapnya merujuk kepada sang Waktu.
Sang Waktu yang memberikan kesempatan kepada Sore untuk mengulang perjalanan masa lalu itu murka.
KRISIS IKLIM
Tidak melulu soal kisah romansa, film ini dibalut dengan kegelisahan si penulis tentang isu krisis iklim. Tak ayal, pembuka adegan dalam film ini adalah hamparan laut es di Finlandia. Jo mengarungi lautan es sembari mengabadikannya dalam potret indah bak lukisan. Terselip adegan bongkahan es yang mencair saat para pemeran mengambil adegan di kapal laut. Sebagai seorang fotografer yang realis, ia dengan senantiasa berusaha menggelar pameran foto yang memajang karya-karyanya yang bertajuk climate change, seperti potret dua beruang kutub yang sedang asyik bermain di atas es, visual langit senja di hamparan benua arktik, hingga indahnya goresan aurora di langit Finlandia.
Not to mention that the cinematography in this movie is exquisite! Dengan segala fenomena alam Kroasia yang indah, film ini benar-benar memanjakan mata penonton.
MASA LALU; RASA SAKIT
Menurut saya, sutradara tidak sedang berusaha mengusung topik gaya hidup sehat dalam film ini. Tidak seperti webseriesnya yang bergandengan dengan salah satu jenama produk yang memang berfokus dengan gaya hidup sehat, film ini terkesan menggarisbawahi tentang perjalanan hidup seseorang, mulai dari kebahagiaan, masa lalu, serta rasa sakitnya. Setidaknya, itulah yang saya tangkap dari kutipan-kutipan indah yang disampaikan dalam film, seperti:
"Tahu nggak, kenapa senja itu selalu menyenangkan? Kadang ia merah merekah bahagia, kadang ia hitam gelap berduka. Tetapi langit tetap menerimanya apa adanya"
Menurut saya pribadi, kalimat tersebut memiliki makna tentang bagaimana kita manusia adalah makhluk yang tidak akan lepas dari jatuh bangun dan pahit manisnya kehidupan. Hidup tentu tidak selalu berjalan mulus seperti yang kita mau, seperti halnya senja yang tidak selalu merah merekah bahagia. Akan ada rasa sakit bahkan trauma yang kita rasakan, bak senja yang kadang hitam gelap berduka. Life goes on anyway. Langit tetap menerimanya apa adanya, selayaknya kita manusia yang tetap menjalani hidup meski terseok-seok menopang cobaan datang silih berganti. Merelakan dan berdamai, mungkin adalah kunci jawaban dari salah dua dari sekian perkara dalam hidup.
Seperti halnya Jo yang memendam rasa sakit karena ditinggal oleh Papanya sejak ia berusia 4 tahun. Sejak itu pula ia membenci Papanya dan menyalahkannya atas pilihan hidup yang diambilnya. Berdamai dengan diri sendiri, pilihnya dengan kesadaran penuh. Jo menyadari pada akhirnya bahwa apapun yang dilakukan Papanya itu tidak dapat dibenarkan, namun ia telah memaafkannya.
KISAH CINTA JO DAN SORE
"Kalau bisa mengulang ratusan kali, aku tetap akan selalu memilih kamu", ucap Sore di suatu sore yang teduh. Sekilas menonton film ini, pasti berkesimpulan bahwa Sore-lah yang sangat mencintai Jo. Faktanya, kalimat-kalimat yang terdengar seperti gombalan itu sebenarnya adalah ucapan Jo di masa depan.Terlepas dari kuatnya chemistry yang terjalin antara dua pemeran utama tersebut, lantunan soundtrack yang menyentuh juga menjadi poin tambahan untuk film ini.
